Jumat, 22 Juni 2012

Fungsi Pemeriksaan K1-K4


Latar Belakang
Tingginya angka kematian ibu di Indonesia terkait dengan rendahnya kualitas berbagai program dalam upaya penurunana AKI telah dilaksanakan oleh pemerintah seperti dalam program Safe Motherhood (SM) yang dikenal 4 pilar yaitu : keluarga berencana, persalinan bersih, penanganan masa nifas dan antenatal care.

FUNGSI PEMERIKSAAN K1- K4

Tujuan Pelayanan Antenatal
1.      Menjaga agar ibu sehat selama masa kehamilan, persalinan dan nifas serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat.
2.      Memantau kemungkinan adanya risiko-risiko kehamilan, dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi.
3.      Menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal.
           
A.     Jadwal kunjungan asuhan antenatal
Dalam bahasa program kesehatan ibu dan anak, kunjungan antenatal ini diberi kode angka K yang merupakan singkatan dari kunjungan. Pemeriksaan antenatal yang lengkap adalah K1, K2, K3 dan K4. Hal ini berarti, minimal dilakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu, sekali kunjungan antenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak dua kali kunjungan antenatal pada usia kehamilan diatas 36 minggu.
Selama melakukan kunjungan untuk asuhan antenatal, para ibu hamil akan mendapatkan serangkaian pelayanan yang terkait dengan upaya memastikan ada tidaknya kehamilan dan penelusuran berbagai kemungkinan adanya penyulit atau gangguan kesehatan selama kehamilan yang mungkin dapat mengganggu kualitas dan luaran kehamilan. Identifikasi kehamilan diperoleh melalui pengenalan perubahan anatomi dan fisiologi kehamilan seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Bila diperlukan, dapat dilakukan uji hormonal kehamilan dengan menggunakan berbagai metoda yang tersedia.

Ada 6 alasan penting untuk mendapatkan asuhan antenatal, yaitu:
1.      Membangun rasa saling percaya antara klien dan petugas kesehatan
2.      Mengupayakan terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi yang dikandungnya
3.      Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan kehamilannya
4.      Mengidentifikasi dan menatalaksana kehamilan risiko tinggi
5.      Memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan dalam menjaga kualitas kehamilan
6.      Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang akan membahayakan keselamatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya.

Perencanaan
Jadwal pemeriksaan (usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir) :
-          sampai 28 minggu    : 4 minggu sekali
-          28 – 36 minggu        : 2 minggu sekali
-          di atas 36 minggu     : 1 minggu sekali
KECUALI jika ditemukan kelainan / faktor risiko yang memerlukan penatalaksanaan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif.
KUNJUNGAN / PEMERIKSAAN PERTAMA ANTENATAL CARE
1.      menentukan diagnosis ada/tidaknya kehamilan
2.      menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan
3.      menentukan status kesehatan ibu dan janin
4.      menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta ada/ tidaknya faktor risiko kehamilan
5.      menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan selanjutnya

Tujuan kunjungan K1
K1 Kehamilan adalah kontak ibu hamil yang pertama kali dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan seorang ibu hamil sesuai standar pada Trimester pertama kehamilan, dimana usia kehamilan 1 sampai 12 minggu dengan jumlah kunjungan minimal satu kali
 Meliputi :
1.      Identitas/biodata
2.      Riwayat kehamilan
3.      Riwayat kebidanan
4.      Riwayat kesehatan
5.      Pemeriksaan kehamilan
6.      Pelayanan kesehatan
7.      Penyuluhan dan konsultasi
serta mendapatkan pelayanan 7T yaitu :
1.      Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
2.      Ukur Tekanan Darah
3.      Skrinning status imunisasi Tetanus dan berikan Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) bila diperlukan
4.      Ukur tinggi fundus uteri
5.      Pemberian Tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan
6.      Test Laboratorium (rutin dan Khusus)
7.      Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.
Atau yang terbaru 10T yaitu dengan menambahkan 7T tadi dengan:
8.       Nilai status Gizi (ukur lingkar lengan atas)
9.       Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
10.   Tata laksana kasus. 
Cakupan K1 yang rendah berdampak pada rendahnya deteksi dini kehamilan berisiko, yang kemudian mempengaruhi tingginya AKB dan AKI.
Tujuan k1  :
-          Menjalin hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan klien
-          mendeteksi komplikasi-komplikasi/masalah yang dapat diobati sebelum mengancam  jiwa ibu
-          Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia karena (-) Fe atau penggunaan praktek tradisional yang merugikan
-          Memulai mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan. Asuhan itu penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kalahiran berjalan normal dan tetap demikian seterusnya.
-          mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya) bertujuan untuk mendeteksi dan mewaspadai.
-          Memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya dengan jalan menegakkan hubungan kepercayaan dengan ibu
-          Mengidentifikasi faktor risiko dengan mendapatkan riwayat detail kebidanan masa lalu dan sekarang, riwayat obstetrik, medis, dan pribadi serta keluarga.
-          Memberi kesempatan pada ibu dan keluarganya mengekspresikan dan mendiskusikan adanya kekhawatiran tentang kehamilan saat ini dan kehilangan kehamilan yang lalu, persalinan, kelahiran atau puerperium.

K1 ini mempunyai peranan penting dalam program kesehatan ibu dan anak yaitu sebagai indikator pemantauan yang dipergunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat (Depkes RI, 2001).

Tujuan Kunjungan k2
K2 adalah kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada trimester II (usia kehamilan 12 – 28 minggu) dan mendapatkan pelayanan 7T atau 10T setelah melewati K1.
Tujuan k2 :
-                 Menjalin hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan klien
-                 mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa
-                 Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia karena (-) Fe atau penggunaan praktek tradisional yang merugikan
-                 Memulai mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan. Asuhan itu penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kalahiran berjalan normal dan tetap demikian seterusnya
-                 Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya) bertujuan untuk mendeteksi dan mewaspadai.
-                 Kewaspadaan khusus mengenai PIH (Hipertensi dalam kehamilan), tanyakan gejala, pantau TD (tekanan darah), kaji adanya edema dan protein uria.
-                 Pengenalan koplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
-                 Penapisan pre-eklamsia, gameli, infeksi, alat rerproduksi dan saluran perkemihan.
-                 Mengulang perencanaan persalinan.


Tujuan Kunjungan k3 dan k4
K3 dan K4 adalah kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada trimester III (28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36) dua kali kunjungan.
akhir) dan mendapatkan pelayanan 7T setelah melewati K1 dan K2.
Tujuan k4
-          Sama dengan kunjungan I dan II
-          Palpasi abdomen
-          Mengenali adanya kelainan letak dan persentase yang memerlukan kehahiran RS.
-          Memantapkan persalinan Mengenali tanda-tanda persalinan.

Menurut Muchtar (2005), jadwal pemeriksaan antenatal yang dianjurkan adalah :
a.       Pemeriksaan pertama kali yang ideal yaitu sedini mungkin ketika haid terlambat satu bulan
b.      Periksa ulang 1 kali sebulan sampai kehamilan 7 bulan
c.       Periksa ulang 2 kali sebulan sampai kehamilan 9 bulan
d.      Pemeriksaan ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan
e.       Periksa khusus bila ada keluhan atau masalah

Makalah Psikologi


Gangguan Psikologi dan Gangguan Jiwa serta Berhubungan dengan Persalinan
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Psikologi


Disusun oleh:
Aida Fitri
Desi Arniyanti Lesmana
Eli Herawati
Evi Fitriatul Adawiyah
Hera Rahayu
Ita Novietha Sari
Lia Alfiani Teresia
Marifah Anjasmara

AKADEMI KEBIDANAN ASSYIFA
TANGERANG
2011-2012


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………
DAFTAR ISI ………………………………………………………………........
                                     
BAB I PENDAHULUAN                                                                                       
1.1  Latar Belakang…………………………………………………………....       1
1.2  Rumusan Masalah………………………………………………………...       2           
1.3  Tujuan Makalah…………………………………………………………..       2           
1.4  Sistematika Penulisan…………………………………………………….        2

BAB II PEMBAHASAN                                                                                         
2.1  PSIKOLOGI PADA IBU YANG MENGALAMI PERSALINAN
a)      Pengertian Komunikasi Teurapetik……………………………………..            4
b)      Tujuan Komunikasi terapeutik Pada Ibu Dengan Gangguan
Psikologi Saat Persalinan……………………………………………….           5
c)      Pendekatan Komunikasi Terapeutik………………………………........            5
d)     Sikap Komunikasi Terapeutik………………………………………….            6

BAB III PENUTUP                                                                                                 
3.1 Kesimpulan………………………………………………………………         7
3.2 Saran…………………………………………………………………….         7

DAFTAR PUSTAKA



 
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat tuhan Yang Maha Esa, atas berkah dan karunianya yang berkelimpahan maka kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul Gangguan Psikologi dan Gangguan Jiwa serta Berhubungan dengan Persalinan. Kami berharap makalah ini akan menambah wawasan bagi kami.
            Kami menyadari bahwa sebagai mahasiswi kami memiliki keterbatasan kemampuan. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya apabila ada yang berkenan memberikan saran demi perbaikan isi makalah ini sehingga dapat mewujudkan suatu makalah tentang Gangguan Psikologi dan Gangguan Jiwa serta Berhubungan dengan Persalinan.






                                                                                 Tangerang, 6 Juni 2012


                                                                                              Penulis 


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Masalah
Kehamilan pertama bagi seorang wanita merupakan salah satu periode krisis dalam kehidupannya. Pengalaman baru ini memberikan perasaan yang bercampur baur, antara bahagia dan penuh harapan dengan kekhawatiran tentang apa yang akan dialaminya semasa kehamilan. Kecemasan tersebut dapat muncul karena masa panjang saat menanti kelahiran penuh ketidakpastian, selain itu bayangan tentang halhal yang menakutkan saat proses persalinan walaupun apa yang dibayangkannya belum tentu terjadi. Situasi ini menimbulkan perubahan drastis, bukan hanya fisik tetapi juga psikologis (Kartono, 1992).
Taylor (1995) mengatakan bahwa kecemasan ialah suatu pengalaman subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dan ketidakmampuan menghadapi masalah atau adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menyenangkan ini umumnya menimbulkan gejala-gejala fisiologis (seperti gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat, dan lain-lain) dan gejala-gejala psikologis (seperti panik, tegang, bingung, tak dapat berkonsentrasi, dan sebagainya).
Peristiwa kelahiran itu bukan hanya merupakan proses  yang  fisiologis belaka, akan tetapi banyak pula diwarnai komponen-komponen psikologis. Jika seandainya kelahiran itu  cuma fisiologis saja sifatnya, dan kondisi organisnya juga normal, maka pasti proses berlangsungnya akan sama saja di mana-mana dan pada setiap wanita, serta tidak akan mempunyai banyak variasi. Sedang pada kenyataannya, aktivitas melahirkan bayi ini cukup bervariasi. Dari yang amat mudah dan lancar sampai pada yang sangat sukar, baik itu normal maupun abnormal dengan operasi SC dan lain-lain. Orang menyebutkan beberapa faktor penyebab dari mudah sulitnya aktifitas melahirkan bayi, antara lain ialah :
a.       Perbedaan iklim dan lingkungan sosial, yang mempengaruhi fungsi-fungsi kelenjar endokrin. Dan kelenjar endokrin ini sangat penting fungsinya pada saat melahirkan bayi.
b.      Cara hidup yang baik atau cara hidup yang yang sangat ceroboh dari wanita yang bersangkutan, sebab cara hidup tersebut terutama cara hidup sexualnya mempengaruhi kondisi rahim dan organ genitalnya.
c.       Kondisi otot-otot panggul wanita.
d.      Kondisi psikis/kejiwaan wanita yang bersangkutan.
Orang mendapatkan kesan, bahwa sekalipun kini terdapat banyak kemajuan di bidang kebidanan dan kedokteran untuk meringankan proses partus, namun kehidupan psikis wanita yang tengah melahirkan bayinya itu sejak zaman purba hingga masa modern sekarang masih saja banyak diliputi oleh macam-macam ketakutan dan ketakhayulan. Oleh karena itu, akan mempengaruhi emosi pada saat hamil dan proses melahirkan yang menimbulkan kegelisahan dan ketakutan menjelang kelahiran.

1.2     Rumusan Masalah
1.  PSIKOLOGI PADA IBU YANG MENGALAMI PERSALINAN
a)      Pengertian Komunikasi Teurapetik
b)      Tujuan Komunikasi terapeutik Pada Ibu Dengan Gangguan Psikologi Saat Persalinan
c)      Pendekatan Komunikasi Terapeutik
d)     Sikap Komunikasi Terapeutik
1.3     Tujuan Makalah
          Penulisan Makalah ini dilakukan untuk memenuhi tujuan-tujuan yang diharapkan dan dapat bermanfaat bagi kalangan mahasiswa. Secara terperinci tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.  Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Psikologi.
2.  Mengetahui apa yang dimaksud dengan
1.4     Sistematika Penulisan
          Pada pembuatan makalah ini, penulis akan menjelaskan hasil penelitian dimulai dari:
BAB 1 : PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang Masalah
1.2         Rumusan Masalah
1.3         Tujuan Masalah
1.4         Sistematika Penulisan
BAB 2 : PEMBAHASAN
2.1          PSIKOLOGI PADA IBU YANG MENGALAMI PERSALINAN
A.    Pengertian Komunikasi Teurapetik
B.     Tujuan Komunikasi terapeutik Pada Ibu Dengan Gangguan Psikologi Saat Persalinan
C.     Pendekatan Komunikasi Terapeutik
D.    Sikap Komunikasi Terapeutik
BAB  3 : PENUTUP
3.1         Kesimpulan
3.2         Saran


BAB II
PEMBAHASAN
Gangguan Psikologi dan Gangguan Jiwa serta Berhubungan dengan Persalinan

2.1  PSIKOLOGI PADA IBU YANG MENGALAMI PERSALINAN
Kegiatan komunikasi terapeutik pada ibu melahirkan merupakan pemberian bantuan pada ibu yang akan melahirkan dengan kegiatan bimbingan proses persalinan.
A.    Pengertian Komunikasi Teurapetik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.

Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Hamid, 1996), tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien meliputi :
·         Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri.
·         Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
·         Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai.
·         Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.

B.     Tujuan Komunikasi terapeutik Pada Ibu Dengan Gangguan Psikologi Saat Persalinan.
1.      Membantu pasien memperjelas serta mengurangi beban perasaan dan pikiran selamam proses persalinan. 
2.      Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien. 
3.      Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri untuk kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan dengan semestinya. 

C.    Pendekatan Komunikasi Terapeutik. 
1.      Menjalin hubungan yang mengenakkan (rapport) dengan klien.
Bidan menerima klien apa adanya dan memberikan dorongan verbal yang positif. 
2.      Kehadiran.
Kehadiran merupakan bentuk tindakan aktif ketrampilan yang meliputi mengayasi semua kekacauan/kebingungan, memberikan perhatian total pada klien. Bila memungkinkan anjurkan pendamping untuk mengambil peran aktif dalam asuhan. 
3.      Mendengarkan.
Bidan selalu mendengarkan dan memperhatikan keluhan klien. 
4.      Sentuhan dalam pendampinganklien yang bersalin. 
Komunikasi non verbal kadang-kadang lebih bernilai dari pada kata-kata. Sentuhan bidan terhadap klien akan memberi rasa nyaman dan dapat membantu relaksasi. 
5.      Memberi informasi tentang kemajuan persalinan.
Hal ini diupayakan untuk memberi rasa percaya diri bahwa klien dapat menyelesaikan persalinan. Pemahaman dapat mengerangi kecemasan dan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi
6.      Informasi yang diberikan diulang beberapa kali dan jika mungkin berikan secara tertulis. Memandu persalinan dengan memandu intruksi khusus tentang bernafas, berelaksasi dan posisi postur tubuh.
Misalnya : bidan meminta klien ketika ada his untuk meneran. Ketika his menghilang, bidan mengatakan pada ibu untuk bernafas pajang dan rileks. 
7.      Mengadakan kontak fisik dengan klien. 
Kontak fisik dapat dilakukan dengan menggosok punggung, memeluk dan menyeka keringat serta membersihkan wajah klien.
8.      Memberikan pujian. 
Pujian diberikan pada klien atas usaha yang telah dilakukannya. 
9.      Memberikan ucapan selamat pada klien atas kelahiran putranya dan menyatakan ikut berbahagia.
Komunikasi terapeutik pada ibu dengan gangguan psikologi saat persalinan dilaksanakan oleh bidan dengan sikap sebagai seorang tua dewasa, karena suatu ketika bidan harus memberikan perimbangan.

D. Sikap Komunikasi Terapeutik
Lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik menurut Egan, yaitu :
1.      Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda”.
2.      Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
3.      Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
4.      Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
5.      Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien.




BAB 3
PENUTUP

1.1    Kesimpulan
       Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.

1.2    Saran
       Dalam Makalah ini terdapat penjelasan tentang gangguan psikologi dan gangguan jiwa serta berhubungan dengan persalinan, penulis berharap agar mahasiswi dapat mengetahui dan mengatasi masalah gangguan psikologi yang dialami oleh pasien selama masa persalinan.


DAFTAR PUSTAKA
Cangara, Hafid. (2006), Pengantar Ilmu Komunikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Ellis,R.,Gates, R, & Kenworthy,N. (2000). Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan: Teori dan Praktik.Alih Bahasa :Susi Purwoko. Jakarta,EGC.
Keliat, B.A. (2002), Hubungan Terapeutik Perawat-Klien, EGC, Jakarta.
Notoatmodjo, S 1997, Ilmu Perilaku dan komunikasi Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta
Purwanto, H. (1998). Komunikasi untuk Perawat. EGC, Jakarta.
Stuart.G.W. & Sundeen.S.J.(1998) . Buku Saku Keperawatan Jiwa.Alih Bahasa: Achir Yani S. Hamid. ed ke-3. Jakarta, EGC
Suryani. (2005). Komunikasi Terapeutik Teori & Praktek. Jakarta, EGC.